Denny JA Terbitkan Buku Dengan Science, Memenangkan Pilpres 2024, Transkripsi 100 Video Ekspresi Data
- Penulis : Mila Karmila
- Senin, 01 Juli 2024 10:18 WIB

Ternyata selisih antara hasil KPU dengan quick count LSI Denny JA itu hanya 0,07 persen saja. Jauh lebih kecil, dan selisih paling kecil, dibandingkan quick count yang dibuat oleh aneka lembaga lain.
Ternyata data-data Denny JA katakan sebelumnya itu, yang sempat sangat diragukan, bahkan dituduh pembohongan publik, terbukti benar, sesuai dengan hasil KPU.
Denny JA, yang banyak dikecam sebelumnya, bahkan mendapatkan dua penghargaan. Pertama dari LEPRID: The Legend Award kepada Denny JA. Ia ikut memenangkan pilpres 5 kali berturut-turut sejak pertama kali pilpres langsung di tahun 2004, 2009, 2014, 2019 dan 2025.
Baca Juga: LSI Denny JA: Masyarakat Media Sosial Khawatir Dampak Judi Online bagi Keuangan
Tak lama kemudian, MURI juga, melalui pendiri Jaya Suprana, menganugrahkan Denny JA, satu rekor Muri sebagai konsultan politik pertama yang memenangkan 5 kali pilpres berturut-turut di dunia.
Denny JA pun mengatakan mustahil ia bisa memberikan data yang sangat akurat 5 minggu sebelum hasil KPU. Mustahil pula, ia bisa ikut memenangkan 5 kali pilpres berturut-turut.
Itu semua mustahil ia bisa kerjakan tanpa kekuatan sains yang ia gunakan. Ada ilmu pengetahuan yang sudah teruji berkali- kali dibalik pemilu presiden.
Baca Juga: Dunia Anak dalam Lukisan Artificial Intelligence (AI) Denny JA
Denny menegaskan hadir sains di balik semua prediksinya, di balik semua konsultasi politiknya, sejak ia berkiprah di pilpres 2004, dua puluh tahun lalu.
Itu pula yang kemudian menjadi judul buku baru yang ia terbitkan: “Sains di Balik Kemenangan Pilpres 2024: Transkripsi 100 Video Ekspresi Data Denny JA.”
Ketika pilpres berlangsung, sejak bulan Mei 2023 hingga Maret 2024, selama 10 bulan, hampir setiap hari Denny JA membuat video Ekspresi Data.
Dalam video itu, ia mereview, ia memberikan satu analisis dan juga prediksi mengenai aneka peristiwa pilpres 2024. Acapkali data dan analisis yang ia paparkan berbeda dengan common sense sebagian kaum terpelajar.