DECEMBER 9, 2022
Kolom

Catatan Denny JA: Jokowi dan Prabowo, Hubungan Unik dalam Politik Indonesia

image
Ilustrasi. (Entertainmentabc.com)

Saat itu, setelah
pengumuman hasil Pemilihan Presiden yang memenangkan Jokowi, terjadi kerusuhan di Jakarta pada tanggal 21-22
Mei 2019. 

Kerusuhan ini dipicu oleh ketidakpuasan
sebagian pendukung
Prabowo yang menuduh adanya kecurangan dalam proses pemilihan. 

Protes ini berujung pada bentrokan antara demonstran dan aparat keamanan di berbagai titik di Jakarta, khususnya di kawasan Tanah Abang dan Slipi.

Baca Juga: Ini Dia Profil Mayor Teddy Resmi Jadi Sekretaris Kabinet Prabowo Gibran, Ini Fakta Menariknya

Namun, di luar dugaan banyak pihak, sesuatu yang tak terbayangkan terjadi setelah Pilpres 2019. Jokowi, sebagai pemenang, justru mengundang Prabowo untuk masuk ke dalam kabinetnya. 

Pada Oktober 2019, Prabowo dilantik sebagai Menteri Pertahanan. Langkah ini mengejutkan banyak pihak karena baru beberapa bulan sebelumnya, Prabowo merupakan lawan politik yang keras menantang kebijakan-kebijakan Jokowi. 

Namun, persaingan keras tersebut berubah menjadi kolaborasi yang solid di dalam pemerintahan.

Baca Juga: Terungkap Latar Belakang Menarik KH Nasaruddin Umar, Sang Menteri Agama Baru di Kabinet Prabowo

-000-

Keputusan Jokowi mengajak Prabowo untuk bekerja sama dalam pemerintahan adalah contoh nyata dari konsep coopetition—gabungan dari competition dan cooperation. 

Istilah ini pertama kali diperkenalkan oleh Raymond Noorda, CEO Novell, pada 1980-an dalam konteks bisnis. 

Baca Juga: Raffi Ahmad dan Yovie Widianto Absen dari Kabinet Prabowo Apa Tugas Rahasia Mereka?

Coopetition menggambarkan situasi di mana dua pihak yang biasanya bersaing, memilih untuk bekerja sama demi kepentingan bersama.

Halaman:
1
2
3
4
5

Berita Terkait