Catatan Denny JA: Retreat para Penulis untuk Kemerdekaan
- Penulis : Mila Karmila
- Senin, 18 November 2024 10:45 WIB

ENTERTAINMENTABC.COM - “Kebebasan dan kemerdekaan itu seperti udara; kita hanya menyadarinya saat kita tercekik.”— Pearl S. Buck
Kebebasan, kemerdekaan, seperti udara, adalah kebutuhan yang sering diabaikan hingga berkurang kualitasnya. Kehadirannya terasa biasa, tapi kehilangannya menghancurkan.
Di sinilah tugas warga negara yang aktif, apalagi para penulis: menjaga napas kebebasan dan kemerdekaan itu tetap hidup. Kebebasan dan kemerdekaan tidak hanya direkam tetapi juga dipertahankan, dirawat, dan diwariskan.
Baca Juga: Catatan Denny JA: Neuroscience, Samudra Spiritualitas Berakar di Saraf Manusia
Retreat para penulis berfungsi sebagai ruang untuk menghirup kembali napas kebebasan. Di Puncak Bogor yang sejuk, Agustus 2024, empat puluh penulis dari Aceh hingga Papua berkumpul untuk merenungkan makna kemerdekaan. Bukan sekadar merayakan masa lalu, tetapi memaknai kemerdekaan dalam tantangan zaman kini.
Seperti udara yang bergerak bebas, gagasan-gagasan di sini mengalir tanpa sekat. Mereka lahir dari pertemuan berbagai latar belakang: dari mereka yang pernah menulis dengan mesin ketik hingga generasi yang akrab dengan teknologi kecerdasan buatan; dari aktivis hingga ibu rumah tangga.
-000-
Baca Juga: Orasi Denny JA: Renungan dari Oxford University hingga Makam Karl Marx
Sepanjang sejarah, penulis acapkali berdiri di garis depan dalam memperjuangkan kebebasan dan kemerdekaan.
Pramoedya Ananta Toer, lewat “Tetralogi Buru,” menggambarkan pergulatan identitas bangsa yang terkubur oleh kolonialisme.
Harriet Beecher Stowe, dalam Uncle Tom’s Cabin, membantu mengakhiri perbudakan di Amerika Serikat dengan menyentuh hati nurani sebuah bangsa.
Baca Juga: Catatan Denny JA: Lima Prinsip Hidup Bahagia dan Bermakna
Aleksandr Solzhenitsyn, melalui The Gulag Archipelago, mengungkap kekejaman sistem otoritarian di Rusia, menyuarakan penderitaan manusia kepada dunia.