Seruan Frugal Living Mencuat, Bank Indonesia Dorong Kebijakan Penopang Daya Beli
- Penulis : Mila Karmila
- Kamis, 21 November 2024 14:00 WIB

Ada juga seruan untuk menunda pembelian barang besar seperti handphone, motor, atau mobil baru setidaknya selama setahun.
"Gunakan subsidi yang ada tanpa gengsi. Toh, itu uang kita juga," ujar akun @malesbangunaja.
Rencana kenaikan PPN menjadi 12% memang menjadi tantangan berat bagi masyarakat, terutama di tengah daya beli yang melemah.
Baca Juga: PPN Naik 12 Persen, Netizen Gaungkan Boikot Pemerintah Lewat Frugal Living
Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan jumlah kelas menengah di Indonesia turun drastis dari 57,33 juta orang pada 2019 menjadi 47,85 juta pada 2024.
Selain itu, tingkat konsumsi rumah tangga yang selama ini menjadi pendorong utama pertumbuhan ekonomi, juga mengalami kontraksi pada kuartal III-2024.
Konsumsi rumah tangga turun sebesar -0,48% dibanding kuartal sebelumnya, menandai perlambatan yang signifikan.
Baca Juga: Tren Istilah Gaul Gen Alpha, Wajib Tahu Biar Nggak Kudet
Sebagai respons, BI telah menyalurkan insentif likuiditas sebesar Rp259 triliun hingga akhir Oktober 2024.
Dana ini dialokasikan ke berbagai sektor strategis seperti hilirisasi mineral dan batu bara, pangan, otomotif, perdagangan, pariwisata, dan UMKM.
Dengan kebijakan ini, Bank Indonesia (BI) berharap bisa memperkuat daya beli masyarakat dan mendorong pertumbuhan ekonomi ke arah yang lebih stabil.
Baca Juga: Hujan Meteor Monocerotid Siap Hiasi Langit Indonesia, Jangan Sampai Kelewatan
Juda juga menegaskan bahwa sektor-sektor ini dipilih karena memiliki potensi besar untuk menyerap tenaga kerja dan menggerakkan perekonomian.