Catatan Denny JA: Wahai Para Esoteris, Berkumpulah
- Penulis : Mila Karmila
- Kamis, 17 Oktober 2024 09:25 WIB

Studi yang dipublikasikan dalam Social Neuroscience menunjukkan bahwa saat meditasi atau doa, korteks prefrontal dan parietal dalam otak manusia mengalami peningkatan aktivitas. (1)
Korteks prefrontal bertanggung jawab atas kesadaran diri, sedangkan parietal terkait dengan orientasi spasial. Hal ini menunjukkan bahwa pengalaman spiritual, terlepas dari agama atau keyakinan, adalah respons yang tertanam dalam otak kita.
Spiritualitas adalah respons biologis yang menghubungkan kita sebagai homo sapiens, seolah-olah ada pusat spiritual dalam otak kita yang dirancang untuk merasakan Yang Kudus.
Baca Juga: Siapa Stella Christie? Guru Besar Tsinghua University yang Dipanggil Prabowo untuk Kabinet
Agama yang kita anut sering kali dipengaruhi oleh lingkungan dan budaya tempat kita tumbuh. Aneka agama yang ada saat ini, seperti Hindu, Yahudi, Buddha, Kristen, dan Islam, berasal dari sekitar 2.000 hingga 4.000 tahun yang lalu.
Namun manusia telah hidup sebagai homo sapiens selama 300.000 tahun, jauh sebelum agama formal hadir. Berbagai agama besar yang kini dominan baru dikenal di ujung 1–2 persen sejarah manusia.
Artinya, 98 persen sejarah spiritualitas manusia berjalan tanpa agama-agama formal yang kita kenal hari ini.
Baca Juga: Calon Menteri Prabowo Dibekali di Hambalang: Apa Saja yang Dibahas?
Ini menunjukkan adanya sesuatu yang lebih tua, lebih dalam, dan lebih universal dalam batin manusia, yang melampaui agama-agama yang ada.
Data ini mempertegas bahwa spiritualitas bukan sekadar produk budaya atau agama tertentu, tetapi merupakan bagian integral dari diri kita sebagai manusia.
Neuroscience mengungkapkan bahwa pusat spiritual di otak adalah respons universal, yang menunjukkan bahwa manusia, tanpa memandang agama atau keyakinan, memiliki kemampuan alami untuk merasakan kehadiran yang ilahi.
Baca Juga: Intip Jadwal Pembekalan Calon Menteri Prabowo di Hambalang! Ada AI hingga Antikorupsi
-000-