DECEMBER 9, 2022
Ekonomi Bisnis

BRICS atau OECD? Pilihan Indonesia yang Bisa Ubah Masa Depan Ekonomi

image
Director of OECD Development Centre Ragnheidur Elin Arnadottir (kanan) bersama Chairman of Bank of Thailand Board Porametee Vimolsiri (kiri) dan Chairman of the Board at PT Bank Mandiri Chatib Basri (tengah) Sedang mengambil foto usai acara OECDs Economic Outlook for Southeast Asia, China and India (ANTARA)

ENTERTAINMENTABC.COM - Wacana Indonesia untuk bergabung dengan BRICS atau OECD sudah lama beredar.

Indonesia perlu segera mengambil langkah antara BRICS atau OECD, karena berlama-lama memilih hanya memperbesar risiko kehilangan keduanya.

“Jika kita terlalu lama memilih, Indonesia bisa kehilangan kesempatan penting untuk ikut dalam diskusi kebijakan besar yang memengaruhi masa depan ekonomi dunia,” kata Ekonom Universitas Paramadina, Wijayanto Sarmin, dalam wawancara dengan Tirto. 

Baca Juga: SEVENTEEN Meledak di Billboard 200 Album Spill The Feels Masuk Top 5, Catat Rekor Baru

Menurut Wijayanto, bergabung dengan BRICS tidak berarti Indonesia harus menjaga jarak dengan Uni Eropa (EU) dan Amerika Serikat.

India, UEA, Brazil, dan Arab Saudi adalah contoh negara BRICS yang tetap memiliki hubungan baik dengan AS.

Di sisi lain, bergabung dengan OECD juga tak harus memutus relasi dengan BRICS, terutama Tiongkok dan Rusia.

Baca Juga: BRICS Hadirkan Mata Uang Baru : Upaya Lawan Dominasi Dolar AS?

Wijayanto menegaskan, BRICS dan OECD bukanlah aliansi yang ketat.

Setiap anggota bebas bekerja sama dengan negara lain.

Karenanya, keputusan Indonesia harus lebih pragmatis daripada politis—pilihan terbaik adalah yang paling menguntungkan bagi Indonesia.

Baca Juga: Indonesia Gabung BRICS: Langkah Strategis atau Risiko Baru?

Menurutnya, OECD cenderung mempertahankan dominasi negara-negara Barat di ekonomi global, termasuk dalam perdagangan dan moneter, yang tetap mengandalkan dolar AS sebagai mata uang cadangan utama.

Halaman:
1
2
3
4

Berita Terkait