Mengungkap Mitos Tuyul dan Babi Ngepet, Rahasia Kekayaan Instan di Balik Budaya Indonesia
- Penulis : Mila Karmila
- Jumat, 13 Desember 2024 14:00 WIB

Pada akhir abad ke-19, liberalisasi ekonomi yang dimulai tahun 1870 membawa perubahan besar.
Seperti dijelaskan oleh Jan Luiten van Zanden dan Daan Marks dalam Ekonomi Indonesia 1800-2010 (2012), banyak petani kecil kehilangan lahan akibat ekspansi perkebunan besar milik kolonial.
Di sisi lain, muncul kelompok orang kaya baru, terutama pedagang pribumi dan Tionghoa.
Baca Juga: Gen Z Hati-Hati! Inilah Kesalahan Fatal yang Bisa Menguras Dompetmu di Era Digital
Kecepatan mereka mengumpulkan kekayaan sering kali membingungkan masyarakat petani yang hidup dalam kemiskinan.
Karena tidak memahami sumber kekayaan ini, masyarakat mencari penjelasan melalui kepercayaan mistis, menciptakan tuduhan bahwa kekayaan tersebut berasal dari bantuan dua makhluk ini.
Antropolog terkenal Clifford Geertz dalam The Religion of Java (1976) juga mencatat bahwa fenomena tuyul sering dikaitkan dengan praktik spiritual.
Baca Juga: Money Dysmorphia Sindrom Keuangan yang Menghantui Gen Z dan Milenial, Kamu Termasuk?
Beberapa orang mengaku memelihara makhluk ini dengan melakukan ritual di tempat-tempat keramat.
Menariknya, mereka yang dituduh memelihara makhluk ini biasanya menunjukkan gaya hidup sederhana dan kikir, seolah ingin mengelabui orang lain tentang kekayaan mereka.
Ong Hok Ham dalam bukunya Dari Soal Priyayi sampai Nyi Blorong (2002) menyebutkan bahwa tuduhan memelihara makhluk gaib seperti makhluk ini sering digunakan untuk menjatuhkan status sosial pengusaha sukses.
Baca Juga: Kenapa Tuyul dan Babi Ngepet Tidak Mencuri di Bank? Ternyata Ini Alasannya
Ini menunjukkan bahwa mitos ini lebih sebagai alat sosial daripada fenomena nyata.