Catatan Denny JA: Memulai Tradisi Ikut Merayakan Hari Raya Agama Lain secara Sosial
- Penulis : Mila Karmila
- Minggu, 24 November 2024 14:19 WIB

Tulisan Seri Menghidupkan Sisi Spiritual Manusia (12)
ENTERTAINMENTABC.COM - "Bagaikan untaian benang dalam satu kain batik, perbedaan menjadikan kita kuat. Tanpa warna dan pola yang beragam, takkan ada keindahan yang utuh."
Kita tidak harus serupa untuk saling memahami.
Baca Juga: Catatan Denny JA: Potret Batin Indonesia, Aceh hingga Papua, dari Kacamata Generasi Z
Perbedaan adalah jembatan, bukan jurang yang memisahkan.
Perbedaan agama sering kali dipandang sebagai batas yang memisahkan manusia.
Namun, kutipan di atas mengajak kita untuk merenung lebih dalam: bukankah perbedaan dapat menjadi peluang bagi kita untuk saling belajar dan berbagi?
Baca Juga: Catatan Denny JA: Ketika 221 Penulis Bersaksi soal Pemilu dan Demokrasi di Indonesia, Tahun 2024
Dalam konteks hari raya agama, perbedaan tersebut dapat menjadi momen yang indah untuk mempererat kebersamaan.
Hari raya bukan hanya soal ritus keagamaan, tetapi juga tentang empati, koneksi sosial, dan perayaan nilai-nilai universal yang dimiliki bersama.
Hari Raya sebagai Social Gathering
Baca Juga: Catatan Denny JA: Retreat para Penulis untuk Kemerdekaan
Sebuah riset oleh Pew Research Center pada tahun 2021 menunjukkan bahwa 81% non-Kristen di Amerika Serikat ikut merayakan Natal.